Transcription

KEMAMPUAN GURU MATEMATIKA KREATIF DALAM MEMBUAT MASALAHMATEMATIKA KONTEKSTUALSuryo WidodoUniversitas Nusantara PGRI [email protected] penelitian tentang kreativitas telah banyak dilakukan baikpada guru maupun siswa. Pada umumnya penelitian kreativitas banyakdihubungkan dengan pemecahan masalah metematika. Dalam penelitianini ingin diungkap variabel-variabel tersembunyi dalam subjek gurumatematika kreatif sebagai temuan lain, dalam mengungkap tahap-tahapberpikir kreatif guru. Hasil penelitian ini menemukan bahwa guru kreatifmemiliki kemampuan mengamati, menanya, menalar, menganalogi danmencoba.Kata kunci: mengamati, menanya, menalar, menganalogi dan mencobaA. PENDAHULUANKurikulum 2013 menghendaki perubahan pola pikir guru dalam pembelajaran diantaranya, pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik melalui mengamati, menanya,mencoba, menalar, dan membangun jejaring. Pembelajaran menggunakan ilmu pengetahuansebagai penggerak pembelajaran untuk semua mata pelajaran. Pembelajaran menuntun siswauntuk mencari tahu, bukan diberi tahu (discovery learning). Pembelajaran menekankankemampuan berbahasa sebagai alat komunikasi, pembawa pengetahuan dan berpikir logis,sistematis, dan kreatif. Penilaian mengukur tingkat berpikir siswa mulai dari rendah sampaitinggi. Penilaian menekankan pada pertanyaan yang membutuhkan pemikiran mendalam[bukan sekedar hafalan]; mengukur proses kerja siswa, bukan hanya hasil kerja siswa.Penilaian menggunakan portofolio pembelajaran siswa. Guru mengarahkan siswa untukberperilaku kreatif di antaranya: memberi tugas yang tidak hanya memiliki satu jawaban benar;mentolerir jawaban yang nyeleneh; menekankan pada proses bukan hanya hasil saja;memberanikan peserta didik untuk: mencoba, menentukan sendiri yang kurang jelas/lengkapinformasi, memiliki interpretasi sendiri terkait pengetahuan/kejadian, memberikankeseimbangan antara kegiatan terstruktur dan spontan/ekspresif.Dyers, J.H. et al (2011) mengatakan bahwa 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorangdiperoleh melalui pendidikan, 1/3 sisanya berasal dari genetik. Sebaliknya untuk kemampuankecerdasan berlaku bahwa 1/3 kemampuan kecerdasan diperoleh dari pendidikan, 2/3 sisanyadari genetik. Artinya kita tidak dapat berbuat banyak untuk meningkatkan kecerdasanseseorang tetapi kita memiliki banyak kesempatan untuk meningkatkan kreativitas seseorang.Selanjutnya dalam penelitiannya Dyers (2011) menemukan bahwa pembelajaran berbasiskecerdasan tidak akan memberikan hasil signifikan (hanya peningkatan 50%) dibandingkanyang berbasis kreativitas (sampai 200%). Temuan ini memberikan banyak kesempatan pada1

Nusantara of Reseacrh (Suryo Widodo)2guru untuk meningkatkan kreativitas siswa. Untuk membuat siswa kreatif diperlukan guru yangkreatif. Guru kreatif sangat diperlukan dan mendesak untuk dipenuhi.Banyak penelitian menunjukkan bahwa kreativitas dapat dipelajari dan dapatditerapkan di mana saja, sehingga pendidikan harus diarahkan pada penguatan keterampilankreatif. Penelitian Widodo (2012) kreativitas guru dalam membuat masalah matematikakontekstual, ditemukan bahwa guru mampu membuat masalah matematika kontekstual yangmemenuhi kriteria hasil produk kreatif yaitu kelancaran, keluwesan dan kebaruan. Dalampenelitian sebelumnya Widodo (2011) juga menemukan bahwa dalam membuat masalahmatematika kontekstual baru guru matematika dengan kualifikasi S-1 pendidikan matematikamenggunakan (a) teknik inovasi mengganti kuantitas (bilangannya), (b) teknik inovasimengganti konteksnya (c) teknik inovasi modifikasi pertanyaanya, dan (d) teknik inovasimenambah informasi. (2) dalam menghasilkan masalah matematika kontekstual baru gurumatematika dengan kualifikasi S-1 matematika menggunakan (a) teknik inovasi menggantibilangannya, (b) teknik inovasi mengganti konteksnya, dan (c) teknik inovasi menambahinformasi. Namun demikian teknik-teknik inovasi yang digunakan kedua guru tersebut belummaksimal, jika dirujuk teknik-teknik inovasi yang dikembangkan oleh Vistro-Yu (2009). Beliaumengembangkan ide teknik inovasi untuk menghasilkan masalah baru yang diadaptasi dariteknik inovasi dalam bercerita: (1) penggantian – membuat masalah yang sama tetapi berubahkuantitas, jumlah, unit, bentuk, (2) penambahan – membuat masalah yang sama tetapimenambahkan informasi baru atau kendala atau menambah hambatan, (3) modifikasi –mengambil kuantitas atau bilangan yang diberikan tetap sama tetapi merubah masalahkonteksnya, (4) mengkontekstualisasikan masalah agar masalah yang dibuat lebih relevankepada siswa, (5) mengubah masalah di sekitar atau membalikkan masalah - mengambilmasalah yang sama tetapi mengambil tujuan akhir sebagai yang diberikan dan yang diberikansebagai tujuan akhir, (6) reformulasi – membuat masalah yang sama dalam representasi yangberbeda.Berdasarkan analisis hasil PISA 2009, ditemukan bahwa dari 6 (enam) level kemampuanyang dirumuskan di dalam studi PISA, hampir semua peserta didik Indonesia hanya mampumenguasai pelajaran sampai level 3 (tiga) saja, sementara negara lain yang terlibat di dalamstudi ini banyak yang mencapai level 4 (empat), 5 (lima), dan 6 (enam). Dengan keyakinanbahwa semua manusia diciptakan sama, interpretasi yang dapat disimpulkan dari hasil studi ini,hanya satu, yaitu yang kita ajarkan berbeda dengan tuntutan zaman. Artinya guru matematikaperlu melatih diri untuk membuat soal dengan level tinggi (level 4, 5, dan 6)Analisis hasil TIMSS tahun 2007 dan 2011 di bidang matematika dan IPA untuk pesertadidik kelas 2 SMP juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. Untuk bidang matematika,lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah, sementaramisalnya di Taiwan hampir 50% peserta didiknya mampu mencapai level tinggi dan advance.

Nusantara of Reseacrh (Suryo Widodo)3Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yangdiujikan atau yang distandarkan di tingkat internasional.Hasil analisis lebih jauh untuk studi TIMSS dan PIRLS menunjukkan bahwa soal-soal yangdigunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dibagi menjadi empat kategori, yaitu: (1)low mengukur kemampuan sampai level knowing; (2) intermediate mengukur kemampuansampai level applying; (3) high mengukur kemampuan sampai level reasoning; (4) advancemengukur kemampuan sampai level reasoning with incomplete information. Dari kenyataaninilah Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran,yaitu menggunakan pendekatan ilmiah (scientific appoach). Pendekatan ilmiah ini memerlukanlangkah-langkah pokok sebagai berikut (1) Observing (mengamati), (2) Questioning(menanya); (3) Associating (menalar); (4) Experimenting (mencoba); Networking (membentukjejaring) (Kemdikbud, 2013).Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggaliinformasi melaui pengamatan, bertanya, percobaan, menalar hingga membentuk jejaring,kemudian mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan denganmenganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan, dan mencipta. Untuk mata pelajaran, materi,atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikansecara prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetapmenerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifatnonilmiah.Dari uraian di atas dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut, Kemampuanapa saja yang dimiliki guru kreatif dalam membuat maslah matematika kontekstual? Tujuanpenelitian ini adalah mengungkap mengungkap kemampuan yang dimiliki guru kreatif dalammembuat masalah matematika kontekstual.B. METODE PENELITIANPenelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Bila dilihat dari tujuannya untukmengeksplorasi apa yang dilakukan guru dalam membuat masalah matematika kontekstual,maka penelitian ini tergolong penelitian eksploratif. Untuk memperoleh gambaran tersebut,peneliti memberikan tugas pada subjek, guru matematika SMP di kabupaten Kediri yaitu “Jimy”(nama samaran) untuk membuat soal matematika kontekstual. Jimy adalah dan Pamela (namasamaran) guru matematika SMP di Kota Kediri dengan kualifikasi akademik S-1 pendidikanmatematika. Berdasarkan hasil tugas yang dibuat dua guru tersebut diketahui merupakan gurukreatif. Selanjutnya peneliti melakukan wawancancara mendalam, dengan Jimy berdasarkanhasil tugas membuat masaah matematika kontekstual, yang sering disebut wawancaraberbasis tugas. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti. Sedangkan instrumenpembantunya adalah alat perekam audio dan audiovisual (handycam) serta catatan penelitiselama proses penelitian. Langkah penelitian adalah sebagai berikut: Pertama, memilih subjek

Nusantara of Reseacrh (Suryo Widodo)4penelitian sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Kedua, memberikan tugas kepada guruuntuk membuat soal kontekstual untuk memperoleh produk kreativitasnya. Ketiga, melakukanwawancara pada guru berdasarkan hasil tugas yang telah dikerjakan serta melakukanpengamatan langsung (dibantu dengan handycam). Keempat, menganalisis hasil tugas tertulisdan wawancara. Kelima, mengungkap kemampuan yang dimiliki oleh guru kreatif dalammembuat soal matematika kontekstual.C. HASIL DAN PEMBAHASANPada pengungkapan berpikir kreatif Jimy diketahui beberapa kemampuan tersembunyiyang dimiliki Jimy. Selanjutnya dari data kredibel yang telah dihasilkan tersebut diungkapkembali dengan fokus kemampuan yang dimiliki guru. Di antara kemampuan tersebut adalahkemampuan Jimy dalam mengamati, membuat pertanyaan (menanya), menalar, menganalogidan mencoba.Contoh masalah matematika buatan Jimy,

Nusantara of Reseacrh (Suryo Widodo)5Cara lain dengan menggunakan perbandingan,Jimy dalam membuat masalah matematika kontekstual diawali dengan mengamatilingkungan sosial siswa atau sekolah. Hal ini ditunjukkan dengan petikan wawancara denganJimy sebagai berikut:Peneliti: Bagaimana bapak bisa menyusun soal tersebut?Jimy: Pada saat ini anak-anak sedang belajar tentang persentase, selanjutnya sayamemikirkan, kegiatan apa yang dapat dihubungkan dengan persentase.

Nusantara of Reseacrh (Suryo Widodo)6Peneliti: Terus?Jimy: Saya lihat penjual minuman cola di depan sekolah. kebetulan cuaca lagi panas,terlihat banyak anak antri membeli es cola. Dan diantara penjual di sekolahpenjual minuman kola ini yang paling laris.Peneliti: Darimana bapak dapat ide diskon dua kali?Jimy:Dari pengalaman jalan-jalan di mall seringkali ada diskon ganda seperti itu.Seperti saya ini punya kartu anggota club belanja. Sering mendapatkan diskonganda, yaitu dari diskon promosi ditambah lagi diskon dari kepemilikan kartu.Hal ini juga ditunjukkan hasil wawancara peneliti dengan Pamela berikut:Peneliti : Ibu telah selesai membuat masalah matematika dengan konteks agen getukpisang, coba ibu ceritakan bagaimana proses terjadinya soal tersebut?Pamela: Di seberang sekolah ada agen penjual getuk gedang (pisang). Setiap pagibanyak penjaja getuk pisang yang antri untuk mengambil getuk pisang di agentersebut.Peneliti: Terus gimana?Pamela: Saya mikir materi apa yang sesuai dengan kejadian itu, di antaranya banyakpaket getuk pisang, banyaknya penjaja getuk pisang, lamanya berjualan, hargagetuk pisang. Lalu saya hubungkan dengan materi pokok perbandingan.Jimy dan Pamela melakukan pengamatan terhadap fenomena dalam lingkungan kehidupansehari-hari tepat dilakukan ketika siswa belajar hal-hal yang terkait dengan topik-topikmatematika yang pembahasannya dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari secaralangsung. Fenomena yang diamati akan menghasilkan pernyataan yang berhubungan dengankehidupan sehari-hari. Selanjutnya pernyataan tersebut dituangkan dalam bahasa matematikaatau menjadi pembuka dari pembahasan objek matematika yang abstrak. Hasil inimenunjukkan bahwa guru kreatif memiliki kemampuan mengamati yang lebih. Kemampuan iniyang mendukung guru banyak menghasilkan ide dalam membuat masalah matematikakontekstual. Hasil ini juga sejalan dengan apa yang dihasilkan Dyers (2011) yang menemukanbahwa keterampilan seorang inovator dalam mengamati lebih tinggi dari orang kebanyakan.Dari hasil wawancara terlihat bahwa untuk membuat masalah matematika kontekstual.Jimy selalu mengamati kejadian-kejadian di lingkungan siswa. Artinya Jimy memilikikemampuan lebih dalam hal pengamatan.

Nusantara of Reseacrh (Suryo Widodo)7Jimy mampu memunculkan banyak pertanyaan pada masalah matematika kontekstualyang telah dibuat. Hal ini ditunjukkan dengan petikan wawancara dengan Jimy sebagai berikut:Peneliti: Selain persentase kadar kola, apa masih ada ide lain?Jimy:Masih, misalnya: persentase untung/rugi dari penjualan minuman kola,menetapkan harga jual pergelas dengan persentase keuntungan tertentu.Misalkan banyak air mineral yang ditambahkan diketahui ditanyakan kadar kolasetelah campurannya. Peneliti: Apakah ada ide lain selain waktu berpapasan kedua merpati?Jimy: Jika kedua merpati dilepas dari pangkalan yang sama, setelah berapa detik merpatiandika dilepas agar merpati tiba secara bersamaan? .Hal ini juga ditunjukkan hasil wawancara peneliti dengan Pamela berikut:Peneliti : Apakah dari konteks tersebut masih dapat dibuat pertanyaan lain?Pamela: Bisa, sebagai contoh dibutuhkan waktu berapa jam jika agen getuk pisangmenambah banyak penjaja hingga 36 orang?Berapa banyak paket getuk pisangyang bisa dijual oleh 24 penjaja dalam waktu 2 jam?.Peneliti: Apakah dari konteks tersebut masih dapat dibuat pertanyaan lain?Pamela: Bisa, sebagai contoh berapakah luas persegi panjang tersebut? Jika tepi persegipanjang tersebut ditutup dengan aluminium dengan lebar aluminium 5 cm berapakeliling papan yang tidak tertutup aluminium?.Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa untuk membuat masalah matematikakontekstual, baik Jimy maupun Pamela memiliki banyak ide dalam membuat pertanyaan.Artinya jika diberikan suatu masalah matematika baik Jimy maupun Pamela dapatmemunculkan banyak pertanyaan dari masalah tersebut. Bahkan banyaknya pertanyaan yangdiusulkan melebihi jawaban. Kemampuan membuat pertanyaan ini akan mendukung gurudalam pembelajaran. Guru diharapkan dapat menahan diri untuk tidak memberi tahu jawabanpertanyaan. Apabila terjadi kendala dalam proses menjawab pertanyaan, atau diprediksi terjadikendala dalam menjawab pertanyaan, guru dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan secarabertahap yang mengarah pada diperolehnya jawaban pertanyaan oleh siswa sendiri. Di sinilahperan guru dalam memberikan scaffolding atau ‘pengungkit’ untuk memaksimalkan ZPD (ZoneProximal Development) yang ada pada siswa (Katminingsih, 2007)

Nusantara of Reseacrh (Suryo Widodo)8Jimy memiliki kemampuan menalar yang baik dalam membuat persamaan matematikamaupun menentukan bilangan yang dijadikan informasi. Hal ini ditunjukkan dengan petikanwawancara dengan Jimy sebagai berikut:Peneliti: dari mana bapak menetapkan bilangan 15 sebagai kecepatan merpati andika, 12sebagai kecepatan merpati bagus dan 300 sebagai jarak antar pangkalan?Jimy:Idenya dari Teka-teki jumlah dan kelipatan bilangan bulat. Diketahui dua bilanganbulat jika kelipatan 10 dari jumlah dua bilangan tersebut 270.Peneliti: Maksudnya gimana? Saya kok belum jelas!Jimy: Dalam soal tersebut 270 10x27. 270 saya maknai jarak 10 saya maknai waktudan 27 saya maknai kecepatan rata-rata.Peneliti: Berarti dua bilangan itu bisa saya ambil 10 dan 17? Kenapa bapak ambil 15 dan12?Jimy:Memang 10 dan 17 jumlahnya 27, tetapi jarak pada soal dibuat 300 jadi 270 2x15 300 jadi masing-masing kecepatanya 15m/detik dan 12 m/detik.Peneliti: Kenapa ditambah 2x15?Jimy:Disinilah letak masalahnya, sehingga soal ini tidak dapat dikerjakan secaralangsung.Juga ditunjukkan oleh petikan wawancara dengan Pamela berikut: Peneliti: Bagaimana Ibu memunculkan ide tentang masalah perbandingan?Pamela: Dari kejadian yang ada di agen tersebut, selanjutnya saya kaitkan denganmateri perbandingan.Peneliti: Kejadian apa yang Ibu maksud?Pamela: Dari kejadian yang ada di agen tersebut, semakin banyak penjaja yangmenjual getuk gedang maka akan semakin cepat habis getuk gedang yangada di agen tersebut. Inikan dapat dihubungkan dengan perbandingan. Jimy memiliki kemampuan mencoba yang dilandasi penalaran (eksperimen) dalammenentukan informasi yang diketahui maupun persyaratan dalam masalah matematikakontekstual. Hal ini ditunjukkan dengan petikan wawancara dengan Jimy sebagai berikut:Peneliti: Bagaimana bapak menentukan kadar kola 20% dan 50%?Jimy:.Dari masalah tersebut diperoleh hubungan 5 50% x 0/100 (5 x) 20%.Selanjutnya bilangan bisa diubah-ubah sesuai dengan keinginan kita.

Nusantara of Reseacrh (Suryo Widodo)9Peneliti: Dari mana dapat ide 12800 sebagai uang pembelian, 8000 dan 16000 sebagaiharga sate ayam dan sate kambing?Jimy:Dari persamaan 8000x 16000 y 12800 maka nilai x dan y dapat dicoba-cobasehingga persamaan 8000x 16000 y 12800 bernilai benar. 128000 harusmerupakan kelipatan dari 8000 dan 16000.Juga ditunjukkan oleh petikan wawancara dengan Pamela berikut:Peneliti : Bagaimana ibu memunculkan ide tentang bilangan jumlah penjaja denganwaktu?Pamela: Dari mencoba mengganti-ganti bilangan pada persamaan perbandingan yangterjadi, yang ekivalen dengan 2n 3x12 sehingga diperoleh n 18.Sekarang jika jumlah penjaja yang diketahui 11 maka 3x11 33 jadi n 16,5. Jawabini akan membingungkan siswa saya, apakah ada banyak penjaja 16,5 jadihasilnya haruslah bilangan bulat positip.Berarti dalam membuat soal guru memerlukan kemampuan mencoba, agar soal yangdihasilkan dapat dikerjakan oleh siswa. Jimy dan Pamela memiliki kemampuan tersebut dalammembuat masalah matematika kontekstual.Jimy memiliki kemampuan menganalogi informasi, persamaan matematika dalammasalah matematika kontekstual ke konteks yang lain. Hal ini ditunjukkan dengan petikanwawancara dengan Jimy sebagai berikut:Peneliti: dari konteks merpati pulang kandang diketahui merpati terbang siang sejauh 20km ke arah kandang dan jika malam terbang 10 km berlawanan arah dengankandang. Apakah bapak memiliki ide lain tentang konteks tersebut?Jimy:Ada. Misalkan perjalanan burung migrasi. Jumlah burung yang meninggalkan/masuk dalam kelompok perharinya. Jarak tempuh perharinya dibedakan antaraberlawanan dengan arah angin atau searah. Konteks panjat pinang, dengan tinggipinang 10 m, sekali panjat dapat menempuh 2 m, ketika istirahat mlorot (turun) 1m. Berapa kali panjat peserta dapat mencapai puncak? Juga ditunjukkan oleh petikan wawancara dengan Pamela berikut:Peneliti : Apakah ada ide konteks yang berbeda dari konteks agen getuk pisang?Pamela: Ide konteks agen getuk pisang ini bisa juga dibuat ide lain, yaitu ide tentangpekerjaan pengecatan?Peneliti: bagaimana konkritnya?Pamela: jika pada agen penjual pisang tadi semakin banyak penjaja maka makin cepatgetuk pisang itu habis terjual. Jika konteks diubah dengan konteks pengecatan

Nusantara of Reseacrh (Suryo Widodo)10gedung sekolah, berarti semakin banyak pekerja maka semakin cepat selesaipekerjaan pengecatan gedung tersebut.Peneliti: terus?Pamela: 12 orang penjaja diganti dengan 12 pekerja, menghabiskan waktu tiga jam untukmenjual diganti dengan menghabiskan waktu tiga hari untuk mengecat. Berapapenjaja getuk pisang jika getuk pisang tersebut harus terjual habis dalam waktu 2jam? diganti dengan berapa waktu yang diperlukan pekerja agar sebuah gedungdapat selasai dicat dalam waktu 2 hari?.Guru matematika kreatif mampu menganalogi objek, relasi dan konsep matematika padakonteks yang satu dengan konteks kedua. Kemampuan ini diperlukan guru untuk menghasilkanbanyak ide dalam membuat maupun menyelesaikan masalah matematika kontekstual. Jikadihubungkan pada karakteristik produk kreatif, kemampuan ini merupakan ciri kelancaran, yaitukemampuan inovator untuk menghasilkan banyak ide. Temuan ini yang tidak dilihat dalampenelitian Dyers pada para inovator.Temuan di atas sesuai dengan temuan penelitian yang dilakukan Dyers (2011) bahwaorang kreatif atau para inovator memiliki kemampuan mengamati, menanya, menalar,mencoba dan membangun jejaring. Namun demikian Dyers tidak menemukan kemampuanmembuat analogi bagi para inovator. Sehingga temuan penelitian ini dapat melengkapi apayang telah ditemukan Dyers tersebut.D. SIMPULAN DAN SARANDari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru kreatif memiliki: (1) dalam membuatmasalah matematika kontekstual selalu mengawali dengan mengamati lingkungan sosial siswaatau sekolah; (2) kemampuan membuat banyak pertanyaan dalam membuat masalahmatematika kontekstual; (3) kemampuan penalaran yang baik dalam membuat persamaanmatematika maupun menentukan bilangan yang dijadikan informasi; (4) kemampuan mencobayang dilandasi penalaran (eksperimen) dalam menentukan informasi yang diketahui maupunpersyaratan dalam masalah matematika kontekstual; dan (5) kemampuan menganalogiinformasi, persamaan matematika dalam masalah matematika kontekstual ke konteks yanglain.Dengan adanya temuan tersebut disarankan (1) untuk LPTK sebaiknya melatihkankemampuan mahasiswa calon guru dalam hal pengamatan, membuat pertanyaan, penalaraneksperimen, serta analogi; (2) untuk dilakukan pengembangan pelatihan guru kreatif denganmelatihkan keterampilan mengamati, menanya, menganalogi dan mencoba untuk mendorongkemampuan menalar dalam rangka menciptakan guru kreatif.

Nusantara of Reseacrh (Suryo Widodo)11DAFTAR PUSTAKADyers, J.H. et al. 2011. Innovators DNA: Mastering the Five Skills of Disruptive Innovators,Harvard Business Review.Ina V.S. Mullis et al. 2011. TIMSS 2011 Assessment Frameworks, Boston College: TIMSS &PIRLS International Study Center Lynch School of Education,Ina V.S. Mullis et al. 2011. PIRLS 2011 Assessment Frameworks, Boston College: TIMSS &PIRLS International Study Center Lynch School of Education,Katminingsih, Yuni. 2009. Vygotsky dan Teorinya dalam Mempengaruhi Desain PembelajaranMatematika. Cakrawala Pendidikan, 11 (1) pp. 93-105 ISSN 1410-9883. Tersedia:http:\\digilib.stkippgri-blitar.ac.id/24/ diunduh 12 September 2013.Kemdikbud. 2013. Pendekatan Scientific (Ilmiah) dalam Pembelajaran. Jakarta:Pusbangprodik.OECD. 2009. Learning Mathematics for Life: A Perspective from PISA, Paris: OECDSharp, C. 2004. Developing young children’s creativity: what can we learn from research?VISTRO-YU, C.P. 2009. Using Innovation Techniques to Generate ‘New’ Problems. DalamKaur, B. Yeap, B. Kapur, M. (eds) MATHEMATICAL PROBLEM SOLVING Yearbook2009, Singapore: World Scientific Publishing Co.Widodo, Suryo. 2010. Pembelajaran Matematika yang Mendukung Kreativitas dan BerpikirKreatif. Jurnal Pendidikan Matematika. Vol. 1 No.1 Januari 2010 Hal 43 – 53. Malang:UMMWidodo, Suryo. 2011. Teknik-Teknik Inovasi Yang Digunakan Guru SMP Dalam Membuat SoalMatematika Kontekstual. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan danPenerapan MIPA tanggal 14 Mei 2011 di Universitas Negeri Yogyakarta. ISBN:978-979-99314-5-0Widodo, Suryo. 2012. Profil Kreativitas Guru SMP Dalam Membuat Masalah MatematikaKontekstual Berdasarkan Kualifikasi Akademik. Prosiding Seminar Nasional Matematikadan Pendidikan Matematika, tanggal 10 November 2012 di Universitas NegeriYogyakarta ISBN: 978-979-16353-8-7 (Hal MP-263-MP-270)Widodo, Suryo. 2013. Profil Kreativitas Guru SMP yang berijazah S-1 Matematika DalamMembuat Masalah Matematika Kontekstual. Laporan Penelitian. UNP Kediri: tidakdipublikasikan

peneliti memberikan tugas pada subjek, guru matematika SMP di kabupaten Kediri yaitu “Jimy” (n ama samaran) untuk membuat soal matematika kontekstual. Jimy adalah dan Pamela (n ama samaran) guru matematika SMP di Kota Kediri dengan kualifikasi akademik S-1 pendidikan matematika.