Transcription

Modul 1Filsafat, Filsafat Hukum, dan RuangLingkup Filsafat HukumKhotibul Umam, S.H., LL.M.PEN D A HU L UA NModul 1 merupakan langkah awal yang perlu Anda pahami dalammempelajari mata kuliah Filsafat Hukum dan Etika Profesi. PadaModul 1 ini, akan dibahas mengenai pengertian filsafat, filsafat hukum, danruang lingkup filsafat hukum. Pengertian dipaparkan secara etimologi, yaknimelihat akar kata dan terminologi sebagaimana yang dikemukakan oleh paraahli dalam berbagai referensi yang tercantum dalam daftar pustaka modul ini.Anda perlu mengerjakan latihan soal dan tes formatif di masing-masingkegiatan belajar dengan saksama serta membaca referensi lain sehingga Andaakan mendapatkan pemahaman mengenai substansi Modul 1. Dengandemikian, tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus yangada dalam Modul 1 ini akan tercapai dengan optimal.Secara umum, tujuan dari modul ini adalah memberikan pengetahuandan pemahaman tentang pengertian filsafat, filsafat hukum, dan ruanglingkup filsafat hukum dengan tepat.Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan dapat:1. menjelaskan definisi atau pengertian filsafat dari berbagai perspektif,termasuk relasi antara filsafat dan agama,2. menjelaskan lingkup kajian ilmu filsafat yang meliputi ontologi,epistemologi, dan aksiologi,3. menjelaskan pengertian hukum ditinjau dari berbagai segi,4. menjelaskan pengertian filsafat hukum dan memberikan contohpertanyaan-pertanyaan filsafat hukum, selain pertanyaan dogmatikhukum dan teori hukum,5. menjelaskan letak filsafat hukum dalam konstelasi ilmu,6. menjelaskan objek kajian filsafat hukum.

1.2Filsafat Hukum dan Etika Profesi Kegiatan Belajar 1Pengertian FilsafatPendapat umum mengatakan bahwa studi filsafat adalah studi yangnjlimet. Mahasiswa filsafat tidak ubahnya dianggap sebagai pemikiryang berlebihan, bahkan sering kebablasan, atau kadang-kadang orangmelihatnya sebagai orang gila. Apakah yang demikian benar adanya?Untuk mengklarifikasi pemahaman awam terhadap filsafat, pokokbahasan kali ini akan memaparkan berbagai hal mengenai filsafat dan ruanglingkup kajian filsafat. Anda selaku pembaca, jangan terlalu serius danjangan bingung. Bacalah dengan pikiran terbuka dan penghayatan. Selamatmembaca.A. PENGERTIAN FILSAFATUntuk mempelajari suatu disiplin ilmu, tidak lengkap jika terlebihdahulu Anda tidak mengetahui pengertian atau definisi dari disiplin tersebut.Oleh karena itu, terlebih dahulu Anda harus mengetahui apa itu filsafat,karakteristik filsafat, dan hal-hal yang dibicarakan dalam filsafat. Untukmendefinisikan sesuatu kadang tidak mudah karena sangat tergantung darisisi mana Anda melihatnya. Ibarat beberapa orang buta yang dimintamemegang gajah. Beragam definisi pun akan muncul, seperti gajah adalahsebuah makhluk hidup yang panjang karena memegang belalainya; gajahadalah sebuah benda yang runcing dan tajam karena yang bersangkutanmemegang gadingnya, dan seterusnya.Kalau kita telisik pengertian filsafat secara etimologi (akar kata), katafilsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia. Philos artinya pecinta dansophia artinya kebijaksanaan. Dengan kata lain, secara mudah, Anda akanmengatakan bahwa filsafat merujuk pada makna cinta kebijaksanaan, cintailmu, atau cinta akan hikmah.Secara terminologi, ada yang memberikan makna bahwa filsafatbermakna kegiatan berpikir secara radikal. Radikal berasal dari kata radixyang artinya akar. Berpikir radikal artinya berpikir sampai akar suatumasalah, melewati batas-batas fisik yang ada, dan memasuki medanpengembaraan di luar sesuatu yang fisik (Anshori, 2006: 2).

HKUM4103/MODUL 11.3Terkait dengan filsafat ini, kita tidak akan memahami secara utuhsebelum kita mengetahui ruang lingkup kajian dan persoalan-persoalan yangditanganinya. Di sisi lain, para filsuf mempunyai pandangan yang berbedamengenai arti, objek, metode, tujuan, dan nilai filsafat. Pendefinisian filsafattidak akan mudah dilakukan. Akan tetapi, melalui tulisan ini, kami akankemukakan arti-arti terpenting dari kata “filsafat” itu sebagai berikut.1.Filsafat dalam Arti Cinta Kebijaksanaan (Hikmah)Ini adalah arti dari kata filsafat itu sendiri. Ada pendapat yangmengatakan bahwa Phytagoras, seorang filsuf Yunani Klasik, mengambilkata “filsafat” dari dua kata berbahasa Yunani, yaitu philo dan sophia. Philoberarti cinta, sedangkan sophia berarti bijaksana. Dengan demikian, secaraetimologi/lughowi, kata philoshopia berarti cinta kepada kebijaksanaan.Orang-orang Yunani sebelum Phytagoras mengartikan kata shophiasebagai kemahiran dan kecakapan dalam suatu pekerjaan, sepertiperdagangan dan pelayaran. Kemudian, maknanya berkembang dandigunakan sebagai istilah untuk kecakapan di bidang syair dan musik. Selainitu, juga bermakna memiliki ketajaman pikiran dan perilaku yang baik. Padaakhirnya, makna sophia berkembang lagi dan digunakan untuk menyebutjenis pengetahuan tertinggi, yakni pengetahuan yang bisa mengantarkan kitauntuk mengetahui kebenaran murni.Karena kebijaksanaan (sophia) atau pengetahuan terhadap kebenaranmurni itu merupakan suatu pencapaian yang sulit dilakukan atau hanyaTuhan yang mampu melakukannya, menurut Phytagoras yang pantas bagimanusia adalah sekadar “pecinta kebijaksanaan”. Dia menegaskan,“Cukuplah seorang menjadi mulia ketika ia menginginkan hikmah danberusaha untuk mencapainya.”Kata “filsafat” kemudian masuk dalam bahasa Arab menjadi “falsafah”,lalu masuk dalam bahasa Inggris menjadi philosophy. Sepanjang sejarahnya,“filsafat” menjadi saksi dari kerendahan hati para filsuf yang tidakmengklaim diri mereka sebagai orang yang mampu mengetahui segalagalanya, melainkan sekadar sebagai para pencari dan pecinta kebijaksanaan(hikmah) (Ismail dan Mutawali, 2003: 20).Pencarian pengetahuan tentang kebenaran murni menuntut usaha yangserius dan kerja yang terus-menerus. Oleh karena itu, filsafat terkait eratdengan pengamatan dan pemikiran rasional. Dengan demikian, seorang filsufdalam istilah Plato adalah “orang yang sadar (terjaga) dan membuka

1.4Filsafat Hukum dan Etika Profesi pandangannya terhadap segala hal yang ada di alam eksistensi sambilberusaha untuk memahaminya, sedangkan orang lain menghabiskanhidupnya dalam keadaan tertidur (Ismail dan Mutawali, 2003: 20).”2.Filsafat dalam Arti UmumDalam arti umum, filsafat digunakan untuk menyebut berbagaipertanyaan yang muncul dalam pikiran manusia tentang berbagai kesulitanyang dihadapinya serta berusaha untuk menemukan solusi yang tepat.Misalnya, ketika kita menanyakan, “siapakah saya?”, “dari mana sayaberasal?”, “mengapa saya ada di sini?”, “bagaimana kedudukan manusiadalam semesta alam ini?”, dan seterusnya.Beginilah Aristoteles memahami filsafat ketika ia menyebutnya sebagaisebuah nama dari ilmu dalam arti yang paling umum. Pemahaman filsafatseperti ini selanjutnya berkembang dalam pemikiran Islam. Sejalan ini, AbuNashr al-Farabi mengatakan, “Tidak ada sesuatu pun di alam ini yang tidakbisa dimasuki oleh filsafat.”3.Filsafat dalam Arti KhususFilsafat dalam arti khusus memiliki persamaan dengan sebuah mazhabatau aliran pemikiran tertentu. Arti seperti ini akan langsung tebersit dalampikiran kita ketika kata filsafat dirangkaikan dengan nama salah seorangfilsuf, misalnya filsafat Aristoteles atau filsafat Plato. Perangkaian katafilsafat dengan nama seorang filsuf tertentu mengindikasikan bahwa setiapfilsuf dengan aktivitas filsafat yang dilakukannya bermaksud membangunsuatu bentuk penafsiran yang lengkap dan menyeluruh terhadap segalasesuatu. Dalam Islam, dikenal dengan mazhab yang di kalangan suni sajaterdapat empat mazhab besar, yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Dikalangan syiah, juga terdapat berbagai mazhab besar, yang juga terdapatperbedaan-perbedaan di antara mereka mengenai permasalahan yang secarasyariah adalah sama.Seorang filsuf, dalam membangun filsafatnya, memulai dengan satuprinsip yang diyakini kebenarannya. Misalnya, keyakinan terhadap prinsipyang mengatakan bahwa asal usul wujud (being) adalah materi, akal, ataukehidupan. Juga, keyakinan bahwa semua jenis pengetahuan merujuk padaindra, akal, atau pada indra dan akal secara bersamaan. Dari prinsip yangdiyakininya itu, seorang filsuf kemudian menyusun kesimpulankesimpulannya yang selanjutnya dijadikan sebagai preposisi bagi sebuah

HKUM4103/MODUL 11.5kesimpulan akhir. Demikianlah sampai kemudian sempurna menjadibangunan (sistem) filsafat tersendiri. Melalui konstruksi filsafatnya itu, iaakan menafsirkan segala segi alam wujud (being) berdasarkan prinsip yangdiyakini dan dipercayainya. Kemudian, seorang filsuf lain muncul dan tidaktertarik dengan konstruksi filsafat tersebut. Lalu, ia pun membangun modelfilsafat sendiri berdasarkan prinsip baru yang diyakininya. Begitulah parafilsuf membangun berbagai mazhab dan aliran filsafatnya masing-masing.Maka itu, sejarah filsafat pada dasarnya hanyalah sejarah membangunberbagai mazhab, menolaknya, dan kemudian membangun mazhab-mazhabyang baru.4.Filsafat dalam Arti UniversalDalam arti ini, filsafat berarti pengetahuan terhadap wujud (being) dalamuniversalitasnya dan bukan partikularitasnya. Dalam mengkaji alam semesta,ilmu-ilmu partikular atau khusus tidak hanya berhenti pada fenomenafenomena yang tampak, tetapi juga memiliki perhatian dan berusaha untuksampai pada hukum-hukum universal umum yang bisa diterapkan pada objekkajian tadi. Akan tetapi, filsafat melakukan sesuatu yang lebih jauh dari itu.Filsafat berusaha untuk menyatukan hal-hal yang ada secara keseluruhandalam sebuah bingkai rasional yang dapat menafsirkan berbagai fenomenariil. Oleh karena itu, filsuf senantiasa mempertanyakan hal berikut. Apakahalam ini materi atau jiwa atau percampuran antara keduanya? Apakah dibalik fenomena-fenomena alam yang berubah ini ada sesuatu yang tetap dantidak berubah? Apakah semua peristiwa yang terjadi di alam ini bersifatkebetulan atau ia berjalan menurut sebuah sistem yang ajek? Berkaitandengan arti filsafat sebagai ilmu yang bersifat universal, Herbert Spencer(filsuf Inggris, 1820—1903 M) pernah mengatakan bahwa ilmu adalahpengetahuan yang menyatukan hal-hal yang ada (being) secara parsial(partikular), sedangkan filsafat adalah pengetahuan yang menyatukannyasecara sempurna (universal).Terkait dengan arti universal filsafat tersebut, Plato juga pernahmendeskripsikan filsuf sebagai orang yang mampu melihat alam kosmiksecara menyeluruh sekaligus menguasai zaman secara menyeluruh pula. Halsenada juga diungkapkan oleh Zakaria Ibrahim bahwa tugas seorang filsufadalah memercayai apa yang diucapkan oleh zaman dan waktu, bukan yangdiucapkan oleh detik dan jam serta cenderung pada dimensi ada (being) danbukan pada berbagai objeknya (Zakaria Ibrahim, 1962: 12).

1.65.Filsafat Hukum dan Etika Profesi Filsafat dalam Arti Hikmah KehidupanFilsafat dipahami sebagai orientasi yang mencerahkan kehidupan sesuaidengan tuntutan akal. Filsuf bukanlah seseorang yang hidup dalam menaragading dan mengasingkan diri dari kehidupan masyarakat, seperti yangselama ini digambarkan oleh banyak orang. Bahkan, filsuf adalah pribadiyang hidup menyatu dengan masyarakat dan berbagai persoalannya. Dialogpemikiran dan diskusi filosofisnya merupakan sebuah proses berhadapandengan realitas yang memiliki ciri positivistis. Seorang filsuf dalammenghadapi berbagai persoalan hidup tidak sekadar mengamati danmemikirkannya untuk memahami dan menafsirkannya. Namun, jugamemanfaatkan pemahaman ini untuk sampai pada berbagai solusi yang dapatmenyelesaikan persoalan-persoalan tersebut serta mengarahkan manusiamenuju suatu bentuk kehidupan yang lebih utama, baik untuk pribadimaupun masyarakat.Orientasi untuk mengarahkan kehidupan ini bukan sesuatu yang barudalam filsafat. Plato sejak masa Yunani telah menggambarkan sebuah model“masyarakat manusia”, seperti yang dicita-citakannya. Dalam deskripsinya,Plato berusaha untuk menghilangkan berbagai aib (cela) yang ada dalammasyarakat, yaitu membuat suatu pola reformasi umum.Filsafat juga terdapat dalam berbagai gerakan kebangkitan sosial danilmiah serta memikul beban untuk mengarahkan kehidupan menjadi lebihbaik dan mulia. Di antara tokoh-tokoh filsafat kontemporer, ada yangberusaha untuk menjadikan orientasi ini sebagai satu-satunya orientasi dalamfilsafat, misalnya Karl Marx yang mengusung filsafat materialisme. Marxmengkritik habis filsafat klasik yang hanya menafsirkan alam danmemandang bahwa hal tersebut tidak benar. Tugas filsafat adalah bekerjauntuk mengubah alam. Menurut Marx, dengan mengubah alam, manusiaakan mengubah dirinya dan akan membentuk suatu hukum baru yangmemudahkan jalannya sejarah.Filsafat pragmatisme juga memiliki orientasi ini. William James, tokohfilsafat pragmatisme yang paling terkenal, menyatakan, “Filsuf dalam artiyang sesungguhnya adalah seseorang yang berpikir untuk merealisasikansuatu manfaat yang dicarinya.” Orientasi ini memberikan kesempatan kepadasebagian pemikir untuk membicarakan filsafat politik berbagai negara dalamhasil karya mereka.Secara saksama, perbuatan keseharian Anda mencerminkan bahwa padadasarnya Anda selalu berfilsafat. Sebagai individu, sering kali kita terpaksamenganalisis perbuatan-perbuatan kita, mengoreksi penilaian, dan

HKUM4103/MODUL 11.7mempertimbangkan ukuran-ukuran (standar) yang kita buat sendiri sertamembatasi hubungan kita, baik dengan alam maupun orang lain. Sepanjangkita memahami filsafat sebagai sebuah proses kritik, analisis, dan evaluasiterhadap kehidupan, kehidupan kita sesungguhnya nyaris tidak pernahterpisah dari filsafat.Untuk melengkapi pengertian filsafat, saya perlu menyampaikan kepadaAnda perbandingan antara filsafat dan agama, bagaimana hubungan antarafilsafat dan agama, serta harmonisasi antara filsafat dan agama. Penjelasanmengenai hal tersebut sebagai berikut.a.Filsafat dan agamaDi awal, saya menegaskan bahwa tidak pernah ada pertentangan antarafilsafat dan agama. Bahkan, pandangan sebagian filsuf, khususnya filsufmuslim, bahwa berfilsafat dapat menopang dan meningkatkan keimanan. Disisi lain, keimanan atau ajaran agama apa pun tidak melarang seseoranguntuk berpikir produktif, kreatif, dan inovatif.Banyak ayat dalam Alquran yang menantang manusia untuk selaluberpikir produktif, kreatif, dan inovatif. Dapat saya contohkan, ada ayatAlquran dalam surah Arrahman yang menjelaskan bahwa kamu sekaliantidak akan dapat melintasi langit dan bumi, kecuali dengan kekuatan (ilmu);ayat Alquran dalam surah Almujadilah yang menjanjikan derajat yang tinggibagi orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan; dan sebagainya.Contoh dari kalangan filsuf Barat adalah Thomas Aquinas. Ia merupakanfilsuf yang inovatif sekaligus sebagai orang yang taat beragama. Begitu pulapara ulama. Mereka adalah pemikir muslim yang merepresentasikan integrasiantara berfilsafat yang benar dan pemahaman keagamaan yang mantap,misalnya Imam Ghazali.Apa itu agama? Agama intinya adalah satu bentuk ketetapan Ilahi yangmengarahkan mereka yang berakal dengan pilihan mereka sendiri terhadapketetapan Ilahi tersebut serta kepada kebaikan hidup dunia dan kebahagiaanhidup di akhirat. Untuk lebih jelasnya, agama memiliki beberapa kriteriasebagai berikut.1) Agama adalah sebuah sistem yang datang dari langit (Tuhan).2) Tujuan agama adalah mengarahkan dan membimbing akal manusia.3) Dasar beragama adalah kebebasan pilihan.4) Agama wahyu membawa kebaikan hidup di dunia dan akhirat.

1.8Filsafat Hukum dan Etika Profesi Lebih lanjut, kita perlu melihat dan mengetahui pokok-pokok keagamaanyang benar. Pokok-pokok dimaksud dapat dirangkum sebagai berikut.1) Kepercayaan terhadap satu Tuhan yang Mahakuasa dan Bijaksana,terbebas dari kemiripan dengan makhluk, serta tidak berawal ataupunberakhir dalam wujud-Nya.2) Kepercayaan terhadap alam lain, yaitu di dalamnya terdapat makhlukmakhluk jenis lain, seperti malaikat dan jin.3) Kepercayaan terhadap pengutusan para rasul Tuhan untuk mengajarkanmanusia bagaimana cara menjalani hidup.4) Kepercayaan terhadap adanya kehidupan lain setelah kehidupan duniaini, yaitu kita akan dimintai perhitungan dan diberi balasan sesuaidengan amal perbuatan kita. Jika baik dibalas baik dan jika buruk dibalasburuk.b.Hubungan filsafat dan agamaFilsafat Yunani terpisah dari agama Yunani yang penuh khurafat danmitos. Di Yunani bersifat unik karena masyarakatnya merupakan penganutpaham politheisme secara teologis, sedangkan para filsuf justru membelapaham monotheisme.Adapun bangsa Yahudi sangat mengagumi filsafat Yunani danmenganggapnya sebagai medan berpikir untuk akal sambil tetap berpegangpada kitab suci Taurat beserta ajaran-ajaran yang terdapat di dalamnya. Olehkarena itu, bangsa Yahudi berusaha membungkus keyakinan agama merekadengan pola filsafat. Mereka berpendapat bahwa tujuan filsafat adalahberbakti kepada hidup beragama.Pada abad pertengahan, bangsa Eropa menjadikan filsafat sebagai saranauntuk mengharmonisasikan antara akal dan apa yang dibawa oleh agama.Bahkan, para ahli teologi di Barat dan ahli kalam di dunia Islam telahmenjadikan filsafat sebagai “tameng” pertahanan akidah dengan segalaargumentasi rasionalnya.Fakta sejarah menunjukkan bahwa hubungan antara filsafat dan agamatidak selalu harmonis. Kekuasaan agama selama beberapa kurun waktupernah begitu bengis memusuhi filsafat, misalnya yang terjadi pada masakebangkitan Eropa (Renaissance) dan pada masa Islam, yakni adanya suatugolongan yang fanatik menentang kebebasan berpikir. Pada saat itu, merekaingin membelenggu pemikiran manusia sambil menjadikan diri merekasebagai “panglima” bagi akal (pemikiran). Dengan begitu, sesungguhnya

HKUM4103/MODUL 11.9mereka telah mengotori agama dan ajaran luhurnya. Mereka juga telahmengkhianati filsafat dan ilmu pengetahuan. Di sini, terlihat bahwapertentangan yang ada bukan antara filsafat dan agama, tetapi antara filsafatdan para pemuka agama yang fanatik.c.Harmonisasi filsafat dengan agama di kalangan filsuf muslimCiri paling khusus dari filsafat Islam, secara keseluruhan, merupakanusaha yang diarahkan untuk mengompromikan antara filsafat dan agama.Para filsuf muslim hidup di lingkungan masyarakat Islam dan terpengaruholeh suasana yang berkembang pada saat itu sehingga tentu saja merekaberusaha sekuat tenaga untuk mengompromikan antara akidah mereka dankajian-kajian filsafatnya. Hal ini dengan jelas dapat ditemukan pada IbnuSina dan al-Farabi.Para filsuf muslim banyak menganut pemikiran filsuf Yunani, khususnyapemikiran Aristoteles. Namun demikian, mereka menemukan banyakketidakcocokan antara pemikiran tersebut dan pokok-pokok akidah Islam.Oleh karena itu, mereka berusaha keras untuk memberikan corak keagamaanpada Filsafat Yunani sekaligus memberi “bungkus” filosofis dalampenjelasan tentang agama.B. KAJIAN-KAJIAN FILSAFATPada bagian awal pembahasan, Anda telah memperoleh gambaranmengenai apa itu filsafat dan hubungan filsafat dengan agama. Kini, tibawaktunya Anda mempelajari objek kajian filsafat. Mengapa Anda perlumempelajari hal ini? Tidak lain agar Anda memperoleh pemahaman yanglebih utuh mengenai filsafat. Dalam hal ini, perlu saya kemukakan duakelompok besar filsuf.Kelompok pertama, mereka yang mengingkari filsafat metafisika. Masukdalam kelompok ini adalah filsafat positivisme yang berpandangan bahwailmu pengetahuan dengan segala cabangnya telah mencakup seluruh objeksehingga tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi filsafat untukmengeksplorasi lebih jauh. Kelompok ini berpandangan bahwa tidak adalapangan untuk berfilsafat, kecuali mengkaji hukum-hukum ilmiah yangmengantarkan cabang-cabang ilmu menjadi sebuah kajian yang lengkap ataudengan menganggapnya tunduk pada satu metode dan mencakup bidangbidang yang berbeda dari studi umum. Dalam pandangan positivisme logis,

1.10Filsafat Hukum dan Etika Profesi filsafat adalah metode atau cara untuk menganalisis kata-kata dengan suatuanalisis logika. Positivisme logis menggunakan silogisme untuk menemukanjawaban atas permasalahan-permasalahan, yakni berangkat dari premismayor dan premis minor, kemudian memberikan kesimpulan (conclusion).Kelompok kedua, mereka memperluas wilayah filsafat sampai mencakupsemua objek pengetahuan manusia sehingga setiap lapangan pengetahuanmempunyai filsafatnya sendiri. Filsafat berkisar pada ide-ide umum.Kelompok ini berpendapat bahwa setiap problem ilmu pengetahuanmempunyai sisi rasional yang menjadi perhatian filsafat serta sisipersepsional yang merupakan objek bahasan ilmu-ilmu khusus. Kajianpolitik, sejarah, kebudayaan manusia, agama, seni, bahasa, dan hukum dapatdilihat dari perspektif filsafat. Hal ini sejalan dengan ungkapan al-Farabiyang menyatakan, “Tidak ada entitas apa pun di alam semesta ini, kecualifilsafat mempunyai pintu masuk ke dalamnya.”Setelah mengetahui dua kelompok besar dalam filsafat, kini tibawaktunya secara lebih spesifik kita membicarakan klasifikasi kajian filsafat.Dalam hal ini, kita akan membatasi pada pembahasan dan aliran-aliranfilsafat pada tiga bidang, yakni (1) studi tentang being (ontologi); (2) studitentang pengetahuan (epistemologi); dan (3) studi tentang nilai (aksiologi).Sebelum kita memulai kajian tersebut secara teperinci, ada dua hal yangperlu Anda perhatikan. (1) Anda mungkin sering menemukan kata metafisika(sesuatu di luar fisik) dalam buku-buku filsafat. Sebagian filsuf membatasiarti kata tersebut dalam persoalan ontologi, sedangkan sebagian yang lainmembatasi dalam persoalan epistemologi. Hal ini terjadi karena filsafatmodern memasukkan persoalan being (ontologi) dalam persoalanpengetahuan (epistemologi). Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa“sesuatu di luar alam” (metafisika) itu mencakup persoalan ontologi danepistemologi secara bersamaan karena manusia selalu berusaha untukmempelajari dunia luar. Namun, setelah selesai, manusia pun mulaimemperhatikan dirinya sendiri dan berusaha untuk menyingkap rahasia dankemampuan pengetahuannya. (2) Terdapat satu kelompok yang memperluaslapangan filsafat, dalam artian tidak membatasi pada tiga lapangan yangdisebutkan di atas. Namun, mereka menyertakan ilmu-ilmu lain sebagaiberikut.1. Filsafat agama mengkaji secara kritis konsep-konsep agama, sepertikonsep Tuhan, wahyu, maksiat, ibadah, dan lain-lain.

HKUM4103/MODUL 12.3.4.1.11Filsafat sejarah menafsirkan perjalanan sejarah dan mengklarifikasimetode para sejarawan serta menganalisis sumber-sumber sejarah.Filsafat politik mengkaji karakter suatu pemerintahan, hubungan antaraindividu dan negara, asal usul masyarakat, sumber-sumber hak individu,dan lain-lain.Filsafat hukum mengkaji prinsip-prinsip umum dari hukum positif,termasuk mengkaji konsep-konsep perbuatan, niat, kehendak, kebebasan,dan keadilan. Filsafat ini berusaha membuat satu teori umum berkaitandengan karakteristik hukum.Baiklah, berikutnya kita akan fokus pada tiga bidang, yakni ontologi,epistemologi, dan aksiologi. Penjelasannya dapat Anda baca di bawah ini.1.Ontologi atau Hakikat KeberadaanApa yang dimaksud dengan ontologi? Mengapa kajian ontologi begitupenting? Kajian ini merupakan kajian filsafat paling awal dan paling besarsecara keseluruhan. Namun demikian, kajian ontologi telah mendapatkanserangan keras bukan hanya dari tokoh agama, melainkan oleh sebagianfilsuf sendiri. Meski demikian, ia masih tetap eksis karena adanya kebutuhanmanusia terhadapnya. Ilmu pengetahuan hanya mampu menyediakansejumlah proposisi dan hukum yang berkaitan dengan fenomena-fenomenadan tidak bisa memberikan sebuah penafsiran yang komprehensif tentangalam. Ilmu pengetahuan seperti kita ketahui hanya membahas peristiwa danfenomena yang dapat ditangkap pancaindra. Ada banyak hal yang lebihdalam daripada itu yang tidak bisa dikajinya. Misalnya, tentang “prinsippertama” dan “sebab pertama” dari segala sesuatu.Dalam ontologi ini, terdapat dua bagian penting, yakni (1) metafisikaumum dan (2) metafisika khusus. Persoalan metafisika umum antara lainsebagai berikut.a. Apa yang dimaksud dengan ada, keberadaan, atau eksistensi itu?b. Bagaimana penggolongan dari yang ada, keberadaan, atau eksistensi?c. Apa sifat dasar, kenyataan, atau keberadaan?Sementara itu, metafisika khusus mempersoalkan hakikat yang ada padatiga bagian penting berikut.

1.12a.b.c.2.Filsafat Hukum dan Etika Profesi Kosmologi mempersoalkan hakikat alam semesta, termasuk segalaisinya, kecuali manusia. Persoalan-persoalan kosmologi (alam) bertaliandengan hal-hal berikut.1) Asal mula, perkembangan, dan struktur atau susunan alam.2) Jenis keteraturan apa yang ada di alam?3) Apa hakikat hubungan sebab akibat?4) Apakah ruang dan waktu itu?Antropologi, yakni bidang ilmu yang mempersoalkan hakikat manusia.Persoalan yang ada antara lain menyangkut hal-hal berikut.1) Bagaimana terjadinya hubungan badan dan jiwa?2) Apa yang dimaksud dengan kesadaran?3) Manusia sebagai makhluk bebas atau tidak bebas?Teologi, yaitu bidang yang mempersoalkan hakikat Tuhan. Inimerupakan konsekuensi terakhir dari seluruh pandangan filsafat. Tematema yang dibicarakan berkisar pada kesucian, kebenaran, keadilan, dansifat-sifat Tuhan.Epistemologi atau Teori PengetahuanOntologi dan ilmu-ilmu lain didasarkan pada asumsi bahwa dengankemampuannya, manusia dapat mengetahui hakikat segala sesuatu danmengetahui berbagai karakter terkait hal-hal eksistensial. Hal ini kemudianmendorong munculnya pertanyaan dan perdebatan dari para filsuf yang tidakmau menerima sebuah konsep, pendapat, atau hakikat, kecuali setelahmengadakan kajian dan klarifikasi. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakanobjek kajian epistemologi (teori pengetahuan).Beberapa pertanyaan yang diajukan dalam filsafat tentang teoripengetahuan sebagai berikut.a. Apakah manusia mampu mengetahui hakikat-hakikat dan dapatmeyakini keabsahan dan kebenaran pengetahuan-pengetahuannya?Apakah kemampuan pengetahuannya masih memiliki celah keraguan?Jika pengetahuan itu bersifat probable, seberapa jauh bataskapasitasnya? Apakah ia merupakan pengetahuan yang bersifatprobabilitas atau meyakinkan?b. Apakah pengetahuan itu muncul dari dalam atau dari luar? Dengan caraapa kita bisa mendapatkan pengetahuan? Dengan akal (rasionalis) ataudengan indra (empiris)? Dengan kedua-duanya secara bersamaan?Dengan intuisi yang merupakan jenis pencapaian langsung? Apakah

HKUM4103/MODUL 11.13setiap cara mempunyai batasan-batasan? Apakah akal mampumengetahui Tuhan dan sifat wajib yang melekat pada diri-Nya?3.Aksiologi atau Nilai-nilaiAksiologi adalah cabang filsafat yang secara khusus mengkaji cita-cita,sistem nilai, atau nilai-nilai mutlak (tertinggi), yaitu nilai-nilai yang dianggapsebagai “tujuan utama”. Nilai-nilai ini dalam filsafat adalah al-haq(kebenaran), kebaikan, dan keindahan. Aksiologi ini memiliki tiga cabangsebagai berikut.a. Logika, yakni suatu disiplin filsafat yang membahas nilai kebenaranyang membantu kita untuk berkomitmen pada kebenaran dan menjauhikesalahan serta menerangkan bagaimana seharusnya berpikir secarabenar itu.b. Etika, yakni disiplin filsafat yang membahas nilai kebaikan dan berusahamembantu kita dalam mengarahkan perilaku. Ia mengarahkan kitakepada apa yang seharusnya dilakukan, membatasi makna kebaikan,keburukan, kewajiban, perasaan, serta tanggung jawab moral.c. Estetika, yakni disiplin filsafat yang membahas nilai keindahan danberusaha membantu kita dalam meningkatkan rasa keindahan danmembatasi tingkatan-tingkatan yang menjadi standar dari sesuatu yangindah.Oleh karena itu, persoalan-persoalan dalam aksiologi berkisar pada halhal berikut.a. Apa yang dimaksud baik atau buruk secara moral?b. Apa syarat-syarat perbuatan dikatakan baik secara moral?c. Bagaimana hubungan antara kebebasan dan perbuatan susila?d. Apa yang dimaksud kesadaran moral?e. Bagaimana peran suara hati dalam setiap perbuatan manusia?f. Apakah keindahan itu?g. Keindahan bersifat objektif atau subjektif?h. Apa yang merupakan ukuran keindahan?i. Apa peranan keindahan dalam kehidupan manusia?j. Bagaimana hubungan keindahan dengan kebenaran?

1.14Filsafat Hukum dan Etika Profesi LAT IH A NUntuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,kerjakanlah latihan berikut!1) Apa yang dimaksud dengan filsafat? Bagaimana pula relasi antarafilsafat dan agama?2) Terangkan apa yang menjadi ruang lingkup kajian filsafat!Petunjuk Jawaban Latihan1) Untuk mengetahui pengertian filsafat, Anda dapat melihatnya dari duahal. Pertama adalah secara etimologi atau akar kata dan kedua secaraterminologi. Secara etimologi atau akar kata, filsafat berasal dari bahasaYunani, yaitu philosophia. Philosophia berasal dari kata philos artinyacinta dan sophia artinya kebijaksanaan. Kalau Anda rangkai, philosophiaberarti cinta kebijaksanaan atau cinta ilmu pengetahuan. Kemudian,secara terminologi, Anda dapat melihatnya dari berbagai perspektif,antara lain dari perspektif umum, perspektif khusus, dan perspektifuniversal. Perspektif umum menegaskan bahwa filsafat digunakan untukmenyebut berbagai pertanyaan yang muncul dalam pikiran manusiatentang berbagai kesulitan yang dihadapinya serta berusaha untukmenemukan solusi yang tepat. Sementara itu, dari perspektif khusus,filsafat memiliki persamaan dengan sebuah mazhab atau aliranpemikiran tertentu. Dari perspektif universal, filsafat berarti pengetahuanterhadap wujud (being) dalam universalitasnya dan bukanpartikularitasnya.Relasi filsafat dengan agama dapat dikelompokkan menjadi dua hal.Pertama, filsafat sejalan dengan ajaran agama yang berarti bahwa tidakada konflik di dalamnya, bahkan agama sendiri menganjurkan setiappemeluknya untuk dapat berpikir kreatif dan inovatif. Kedua, filsafatbertentangan dengan agama. Pendapat ini berpegang bahwa sumber dariTuhan adalah kebenaran mutlak, tidak ada otoritas manusia untukmemikirkan lebih lanjut. Kedua pandangan dimaksud masih dapat Andatemukan dalam kehidupan dewasa ini.2) Ruang lingkup kajian filsafat secara umum dibedakan menjadi tiga hal.Pertama, ontologi sebagai kajian filsafat yang konsep dalam mencari

HKUM4103/MODUL 11.15hakikat keberadaan, misalnya apa hakikat dari hukum. Kedua,epistemologi sebagai kajian yang fokus terhadap metode pencarian suatukebenaran atau ada yang mengatakan sebagai filsafat ilmu. Misalnya,pertanyaan mengapa hakim memutus demikian, apa yang digunakanhakim dalam menilai suatu fakta hukum,

Filsafat, Filsafat Hukum, dan Ruang Lingkup Filsafat Hukum Khotibul Umam, S.H., LL.M. M odul 1 merupakan langkah awal yang perlu Anda pahami dalam mempelajari mata kuliah Filsafat Hukum dan Etika Profesi. Pada Modul 1 ini, akan dibahas mengenai pengertian filsafat, filsafat hukum, dan ruang lingkup filsafat hukum.